Bun, ternyata dunia sekeras itu. aku terus menerus belajar tapi semesta juga terus menerus menghantam. ingin aku lebih kuat mungkin, bun. tapi nyatanya aku memang tidak pernah setangguh itu. kalau bicara soal berusaha, aku sudah mencobanya beribu ribu kali, sungguh. aku sudah berjalan jauh sekali bun, agar aku sampai ditempat dimana aku menjadi orang paling bahagia sedunia. tapi itu terdengar mustahil bukan? perjalananku tidak mudah bun, kadang bekalku habis ditengah hutan. kadang juga minumku habis karena tumpah. tak jarang kaki ku tersandung batu yang entah sejak kapan ada didepanku. bun, kata mereka aku sangat payah, bodoh, dan tidak pantas untuk bahagia. lucu ya, seolah olah mereka paling berkuasa padahal dunia punya roda yang kapan saja bisa diputar dengan mudah oleh Tuhan.
pukul 02.00 dini hari aku bangun dan keluar pergi ke teras. mencari udara segar pikirku. hawa panas yang ada didalam kamar yang lama tak kutempati itu cukup membuat tidurku tak nyenyak. aku duduk di kursi teras cukup lama. melihat daun daun menari tertiup angin sesekali melamun entah apa yang ada dipikiran. "sudah lama sekali aku tidak kesini" batinku. semenjak kepergian kakakku dan ayah ibu berpisah, aku tak pernah main lagi ke rumah ini. kakakku meninggal saat berusia 21 tahun karena tabrak lari. waktu itu kami sedang makan diwarung pinggir jalan sambil mengerjakan tugas. kakakku berniat membantu tugasku dan pergi ke tempat fotokopi diseberang jalan untuk ngeprint, namun tiba tiba seorang pengendara mobil melaju dari arah kanan dengan sangat kencang. menabrak kakakku hingga dia terpental beberapa meter dari arah kejadian. sayangnya pengendara itu tidak mau bertanggung jawab dan melarikan diri. kebetulan kamera cctv dijalan tersebut mati dari dua hari yang lalu dan aku ti...