Langsung ke konten utama

Luka Lama

pukul 02.00 dini hari aku bangun dan keluar pergi ke teras. mencari udara segar pikirku. hawa panas yang ada didalam kamar yang lama tak kutempati itu cukup membuat tidurku tak nyenyak. 
aku duduk di kursi teras cukup lama. melihat daun daun menari tertiup angin sesekali melamun entah apa yang ada dipikiran. "sudah lama sekali aku tidak kesini" batinku. semenjak kepergian kakakku dan ayah ibu berpisah, aku tak pernah main lagi ke rumah ini. kakakku meninggal saat berusia 21 tahun karena tabrak lari. 
waktu itu kami sedang makan diwarung pinggir jalan sambil mengerjakan tugas. kakakku berniat membantu tugasku dan pergi ke tempat fotokopi diseberang jalan untuk ngeprint, namun tiba tiba seorang pengendara mobil melaju dari arah kanan dengan sangat kencang. menabrak kakakku hingga dia terpental beberapa meter dari arah kejadian. sayangnya pengendara itu tidak mau bertanggung jawab dan melarikan diri. kebetulan kamera cctv dijalan tersebut mati dari dua hari yang lalu dan aku tidak sempat melihat nomor plat mobilnya dengan jelas. 
aku melihat langsung kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri. seketika kakiku tidak bisa menopang tubuhku, sekujur tubuhku lemas menyaksikan bagaimana kakakku ditabrak dan terpental. 
tak lama warga mulai mengerumuni kakakku, menelpon ambulan, dan menanyaiku bagaimana kronologinya. abang abang penjual di warung yang tahu posisiku berusaha menenangkan dan menceritakan kronologi nya karna tahu aku tidak kuat untuk bercerita. 
selang beberapa saat ambulan datang dan membawa kakakku ke rumah sakit. aku ikut bersamanya. di dalam ambulan, beribu-ribu doa aku mohon pada Tuhan untuk kakakku, setidaknya untuk dia selamat. Tapi ternyata kakakku tidak bisa diselamatkan karena lukanya parah. dia pergi di perjalanan menuju rumah sakit.
satu bulan setelah kejadian itu, perusahaan tempat ayah bekerja bangkrut yang menyebabkan hidup kami menjadi susah. ayah dan ibu setiap hari bertengkar, ibu minta uang belanja untuk makan tapi ayah tidak mau memberinya dengan alasan harus berhemat. 
"kalau tidak makan bagaimana? mau mati?"
"aku tidak peduli, aku tidak mau hidup miskin! cari uang sendiri sana!"
kira kira begitulah kalimat yang setiap hari kudengar ketika berada dirumah. 
3 bulan berlalu dan kondisi ekonomi dirumah tak kunjung membaik. ibu punya hutang dimana mana, dan untuk melunasi serta menyambung hidupku dan hidup ibu, ia bekerja menjadi buruh laundry. 
ibu juga manusia biasa, punya rasa lelah maka setelah itu ibu memutuskan untuk berpisah dengan ayah. 
aku memutuskan untuk ikut ibu pulang ke rumah nenek di Bengkulu. untungnya bude Darti, tetangga yang sudah kuanggap keluarga sendiri mau meminjamkan uangnya untuk ongkos pulang ke Bengkulu. katanya "tak apa, pakai saja dulu. hidup baik baik disana". entah Tuhan menciptakan bude Darti dengan cara bagaimana sampai dia baik sekali kepadaku dan ibu.
kemudian aku ikut ibu berangkat ke Bengkulu dan meninggalkan kuliahku di Jawa. iya, aku berhenti kuliah. 
ah, capek sekali untuk mengingat memori itu kembali. apresiasi besar untukku karena aku sudah berhasil bangkit dari zona seram itu dan melanjutkan perjalanan ku kembali. kakak ku pasti tersenyum dan bangga diatas sana.



sepotong karya fiksi oleh Refinda,
selesai ditulis pada
Kamis, 10 November 2022
di Trenggalek 

Komentar